Tunas Keluarga

KONSEP PROGRAM TUNAS KELUARGA
LPM DOMPET DHUAFA

I. Latar Belakang
Selama ini terkesan bahwa pelajar saat ini hura-hura, manja atau suka tauran, karena inilah yang sering ditampilkan di media. Padahal masih banyak siswa miskin yang harus berjibaku untuk membiayai dirinya atau keluarganya agar bisa tetap sekolah, sehingga mereka sambil belajar juga sambil bekerja paruh waktu. Selain itu juga masih banyak siswa yang mengalami disabilitas tetapi mereka dengan semangat tetap sekolah dengan berbagai kesulitannya. Maka program ini sebagai apresiasi kepada siswa yang ulet, dan memberikan informasi kepada masyarakat bahwa masih banyak pelajar yang perlu menjadi contoh bagi yang lainnya.

II. Deskripsi Program
Memberikan bantuan kepada siswa-siswi harus banting tulang membantu ekonomi keluarga atau disabilitas agar mereka tetap sekolah dan menyelesaikan sampai minimal jenjang SMA. Adapun bentuk bantuannya akan disesuaikan dengan permaslahannya, sehingga bantuan dapat benar-benar membantu maka program ini sebagai jaminan bagi siswa tersebut untuk tetap sekolah dengan memberikan biaya pendidikan bagi keluarga yatim atau dhuafa yang berada di kelas tiga SMP dan SMA sehingga ia dapat lulus tanpa ada permasalahan dalam hal pendanaan

III. Tujuan Program

  1. Sebagai apresiasi atas keuletan seorang pelajar yang tetap menuntut ilmu meskipun harus berusaha membantu perekonomian keluarganya.
  2. Dapat memberikan kemudahan beraktifitas bagi siswa disabilitas.
  3. Agar siswa dapat sekolah dengan selesai minimal hingga jenjang SMA.
  4. Membantu meringankan beban biaya pendidikan keluarga mustahik.
  5. Dapat mengangkat harkat dan maratabat keluarganya

IV. Kriteria Penerima Manfaat

  1. Siswa SD/SMP/SMA ataupun sederajat yang masih aktif di sekolah namun mempunyai aktifitas (berdagang, mengajar, dll) untuk memenuhi kebutuhannya/ sekolahnya ataupun keluarganya.
  2. Berasal dari keluarga tidak mampu dan menjadi tumpuan hidup.
  3. Siswa disabilitas.
  4. Memilki semangat berjuang untuk hidup dan rasa kepedulain serta tangungjawab yang tinggi.
  5. Seorang anak yang hidup sebatangkara, yatim atau dhuafa yang memiliki orang tua tapi tidak bisa mencari nafkah karena keterbatasan