Home>Ruang Berita>Berita Pemulasaran Jenazah>Kesulitan Menangani Jenazah, Barzah Dompet Dhuafa Adakan Pelatihan di Tanah Karo
Berita Pemulasaran Jenazah Ruang Berita

Kesulitan Menangani Jenazah, Barzah Dompet Dhuafa Adakan Pelatihan di Tanah Karo

Desa Gung Pinto adalah sebuah desa kecil yang terletak di Kecamatan Namanteran, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara, dengan jumlah penduduk 165 KK. Ustadz Herman Nasution tokoh dakwah di Gung Pinto menuturkan bahwa desa ini merupakan wilayah satu-satunya di Kabupaten Tanah Karo yang seluruh penduduk beragama Islam. Hal ini terbilang sangat istimewa, apabila melihat keberadaan umat Muslim sebagai kaum minoritas yang hanya berjumlah 27% dari total penduduk yang ada di Tanah Karo. Namun demikian, di tengah perbedaan kepercayaan, mereka tetap senantiasa merawat toleransi dengan saling menghormati dan membantu.

Sebelum tahun 1970 masyarakat Gung Pinto hidup tanpa agama, mereka menyembah kayu-kayu besar yang dikeramatkan oleh leluhur. Hingga akhirnya datanglah seorang tokoh Islam dari Kabupaten Tanah Karo, beliau adalah H. Ibrahim Latif. Melalui bimbingan beliau seluruh penduduk satu desa di Gung Pinto bersyahadat, yang saat itu berjumlah 30 KK. Beliau pun mewakafkan 1 Hektar tanah untuk mendirikan masjid dan madrasah di Gung Pinto.

Ustadz Herman Nasution mengisahkan bahwa H. Ibrahim Latif telah tutup usia (wafat) sekitar 20 tahun silam. Namun tempat ibadah dan tempat menuntut ilmu di atas tanah wakaf beliau, hingga saat ini masih berdiri dengan nama Masjid At-Taqwa.

Ia pun kembali menceritakan pada saat erupsi Gunung Sinabung pada 2010 lalu merupakan awal perkenalan warga Gung Pinto dengan Dompet Dhuafa. Saat itu pengungsian warga Muslim maupun non-muslim dijadikan satu, mereka merasa sulit untuk beribadah dan anak-anak mendapatkan bimbingan kerohanian dengan kepercayaan berbeda. Kesulitan itu diceritakan oleh Ustadz Herman Nasution kepada salah satu media televisi yang sedang meliput. Tim Dompet Dhuafa bergegas menemui para pengungsi muslim lalu memberi bantuan berupa tenda dan tempat ibadah terpisah serta mendatangkan lima dai dari Kota Medan untuk meneguhkan keimanan di kala tertimpa musibah.

Sejak itu dan sampai saat ini gerakan dakwah masih masif berjalan di Desa Gung Pinto. Bahkan ketika program dakwah ditangani langsung oleh Dompet Dhuafa Waspada dengan menurunkan beberapa Ustadz untuk berdakwah di Kabupaten Tanah Karo. Salah satunya adalah Ustadz Didik Satra yang merupakan dai binaan Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa) dan pernah mendapatkan pelatihan program Dai Pemberdaya. Masyarakat setempat mengaku sejak mengenal Dompet Dhuafa pada tahun 2010 itu dakwah Islam di Gung Pinto mengalami kemajuan pesat. Mereka mulai mau berjamaah serta mengaji, dan saat ini kegiatan dakwah masih tetap berlangsung.

Selain program dakwah, Dompet Dhuafa juga memberikan bantuan di bidang perekonomian, melalui program Pertanian Sehat Indonesia (PSI DD). Bantuan ini berupa mesin giling kopi, traktor dan modal pertanian. Namun ada satu keluhan masyarakat di desa ini yang sudah lama dirasakan, yaitu tentang petugas pengurusan jenazah, masyarakat di sini menyebut Bilal Jenazah. Di Desa Gung Pinto hanya ada satu Bilal Jenazah dan ia sudah sangat tua, namun belum ada satu pun penggantinya. Sejak lama masyarakat ingin sekali belajar tata cara pemulasaraan jenazah.

Menanggapi keluhan masyarakat Gung Pinto, Ustadz Madroi selaku Manajer Badan Pemulasaraan Jenazah (Barzah) Dompet Dhuafa menyelenggarakan ‘Safari Barzah hingga ke Tanah Karo’ pada akhir Oktober 2018. Melalui perjalanan itu, Ustadz Madroi memberikan edukasi dan pelatihan pemulasaraan jenazah kepada warga Gung Pinto di Masjid At-Taqwa, dari mulai memandikan, mengkafani, hingga menshalatkan.

“Dompet Dhuafa melalui program Barzah, memberikan pelatihan agar tebentuk tenaga muda sebagai tim yang dapat diandalkan dalam penanganan jenazah umat Islam,’ tutur Ustadz Madroi.

Ketika pelatihan, beberapa warga bercerita pengalaman warga kepada Ustadz Madroi bahwa pernah ada jenazah sampai dua hari lamanya tidak dimakamkan karena tidak ada yang bisa mengurusnya.

Dalam pelatihan tersebut, hadir sejumlah warga dari mulai bapak-bapak, ibu-ibu hingga pemuda. Ustadz Madroi berharap, ilmu yang telah diberikan ini dapat bermanfaat untuk warga Gung Pinto.

“Semoga ke depan mereka mampu menangani jenazah secara Islami dan dapat bermanfaat bagi masyarakat muslim hingga warga di luar desanya,” imbuhnya.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *