Home>Ruang Berita>Berita Bina Santri Lapas>Dompet Dhuafa Memberikan Pelatihan Menulis Kepada Warga Binaan Lapas Wanita Kota Tangerang
Berita Bina Santri Lapas

Dompet Dhuafa Memberikan Pelatihan Menulis Kepada Warga Binaan Lapas Wanita Kota Tangerang

Tangerang – “ikatlah ilmu dengan menulis”, ungkapan ini kerap kali dijadikan motivasi bagi para penulis untuk terus mengimprove kemampuan sehingga menghasilkan tulisan sangat kaya makna dan sarat arti. Menulis adalah aktivitas menyusun atau merangkai kata , frase, kalimat, dan alinea serta dimensi-dimensi lainnya sehingga menjadi satu kesatuan yang padu dan utuh sebagai sebuah tulisan (firdaus putra A., 2008:3).

Hal ini disampaikan pula oleh irwan kelana (novelist & redaktur senior harian republika) pada kegiatan pelatihan jurnalistik dan penulisan cerpen yang diselenggarakan dompet dhuafa bersama 50 warga binaan lapas klas II-A wanita dewasa kota Tangerang pada hari rabu, 16 Mei 2018. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa kemampuan menulis itu didapatkan dari transmisi budaya, yaitu sesuatu yang kita dapatkan melalui proses belajar dan bukan melalui proses warisan, mulailah dengan apa yang ada dalam pikiran, selanjutnya biarkan mengalir.

Animo mereka sangat luar biasa, selama penyampaian materi berlangsung, beberapa dari mereka banyak berinteraksi dengan menyuguhkan pertanyaan-pertanyaan dan memberikan tanggapan berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki.

Diakhir pemaparan, warga binaan di berikan kesempatan untuk menulis berita dan cerpen tentang apa yang terjadi dan yang mereka rasakan. Sebagai bahan awal memulai latihan, hasil karya pemikiran mereka mampu dikonversikan dalam lembaran-lembaran kertas, temanya pun sangat bervariatif dalam rentang waktu yang begitu singkat.

Nandha (35) salah seorang warga binaan menceritakan ketertarikannya pada seni jurnalis & menulis cerpen timbul di tahun 2012 sejak menjalani masa tahanan. Dia (nanda, red) memperlihatkan lembaran-lembaran kertas dan juga buku yang sudah di bandling beserta majalah hasil karya nya untuk dimintakan pendapat. “setiap kegiatan dan acara-acara yang terjadi dilapas saya buatkan berita nya, juga apa yang saya rasa bahkan keluh kesah yang dialami teman, saya tulis. Saya merasa beban akan berkurang, risau akan hilang jika sudah dituangkan dalam bentuk tulisan”, tuturnya.

Hal serupa juga diutarakan oleh ibu Reni (47) sebagai pengajar di salah satu lembaga pendidikan di Tangerang yang kini harus menjadi warga binaan lapas klas II-A Tangerang, “menulis adalah ajang saya untuk menyampaikan rasa dan pengingat, terlebih usia semakin bertambah sedangkan daya ingat malah makin berkurang” ungkapnya.

Ahmad Fitroh selaku Spv. Program Bina Santri Lapas (BSL) Dompet Dhuafa yang menggagas kegiatan ini menuturkan bahwa pelatihan jurnalistik & penulisan cerpen ini akan dijadwalkan sebanyak 3 kali pertemuan dan atau sampai warga binaan mampu menghasilkan karya tulis sehingga mereka bisa lebih produktif saat menjalani masa tahanan. (zubed/lpm)

  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *